Kamis, 06 Maret 2014

10 Kekuatan Manusia



10 Kekuatan Manusia

 
Tak cukup hanya menjadi baik, karena kita harus berusaha untuk selalu lebih baik dari sebelumnya. Terus belajar dan segera menjalankan langkah-langkah perbaikan adalah cara untuk selalu lebih baik. Belajar tak harus selalu dari bangku sekolah elit atau buku-buku mahal, melainkan belajar dari kehidupan sehari-hari, pengalaman diri sendiri maupun orang lain, dan lain sebagainya.
Saya senang belajar dari buku, entah buku kuno ataupun terbitan baru, karena dari sanalah saya memetik banyak pelajaran hidup berharga. Salah satu falsafah hidup yang memperluas wawasan hidup saya adalah catatan surat-surat, konon ditulis oleh Zhuge Liang (181-234) untuk anaknya. Zhuge Liang adalah seorang pakar perang dan kemiliteran ternama pada masa San Guo (Sam Kok) di jaman Tiongkok Purba.
Zhuge Liang alias Kong Ming gemar membaca, dan menguasai bermacam ilmu pengetahuan diantaranya ilmu geologi, sejarah, sampai strategi perang. Di usia 27 tahun ia diangkat Raja Shu (Liu Bei) sebagai penasihat kerajaan. Selama menjadi penasihat, Zhuge Liang pernah menulis sebuah surat kepada anaknya. Isi surat yang ditulis 1.800 tahun yang lalu itu sarat dengan dengan kebijakan yang tak lekang oleh waktu dan perubahan, di antaranya berisi tentang 10 kekuatan manusia, yaitu;

Kekuatan Keheningan

Keheningan membantu kita menenangkan diri untuk menjernihkan pikiran. Ia menjelaskan bahwa suasana hening membantu kita melakukan introspeksi diri, mengevaluasi segala tindakan, dan menumbuhkan tekad untuk memperbaiki diri. Ia juga menegaskan bahwa kunci keberhasilan dalam belajar adalah keheningan, sebab dalam keheningan kita dapat menelusuri apa sebenarnya visi dan misi hidup kita.
Kekuatan Hidup Hemat
Zhuge Liang memberikan petunjuk bahwa hidup bersahaja akan menyelamatkan diri kita agar tidak diperbudak oleh materi. Hidup sederhana menurut sang penasehat ini membentuk diri kita menjadi manusia yang lebih bermoral. Jangan terseret dalam pola hidup boros, sebab pola hidup boros suatu saat dapat mengubur kita kedalam tumpukan hutang dan puing-puing kehancuran.

Kekuatan Membuat Perencanaan

Dalam surat-surat itu Zhuge Liang menegaskan tentang pentingnya merencanakan hidup. Fail to plan means plan to fail - Gagal merencanakan berarti merencanakan untuk gagal. Dengan melakukan perencanaan yang baik, maka kita akan dapat menempatkan prioritas dengan baik pula. Sebaliknya, tanpa perencanaan yang baik akan selalu membuat kita gagal menyelesaikan apapun yang kita kerjakan.

Kekuatan Belajar

Zhuge Liang dalam suratnya menyebutkan bahwa keheningan memaksimalkan pencapaian hasil dari tujuan belajar. Ia meyakini bahwa kemampuan manusia bukan berasal dari pembawaan sejak lahir, melainkan merupakan hasil dari proses pembelajaran yang dilakukan dengan konsisten. Oleh sebab itu ia menyarankan agar kita tak pernah berhenti belajar sampai kapanpun. Sementara dalam proses pembelajaran, kerendahan hati akan sangat membantu kita menyerap dengan mudah ilmu pengetahuan yang dibutuhkan.

Kekuatan Nilai Tambah
Nasihatnya ini menekankan kita agar lebih banyak memberi, karena hal itu akan membuat kita lebih banyak menerima. Oleh sebab itu kita harus berusaha untuk selalu memberikan yang terbaik untuk orang lain, diantaranya kepada keluarga, kerabat, teman, konsumen, mitra bisnis, dan lain sebagainya. Bila kita mampu memberikan sesuatu yang ekstra atau nilai tambah terhadap apa yang dibutuhkan orang lain, tentu saja mereka akan senang, merasa tersanjung dan terpesona. Tak heran jika selanjutnya mereka ingin selalu menjalin hubungan yang menguntungkan bagi Anda.
Kekuatan Kecepatan
Beliau menesehat anaknya agar tidak menunda-nunda pekerjaan karena penundaan artinya menghambat usaha kita mencapai visi dan misi secepat mungkin. Ia menandaskan agar kita menjalankan segala sesuatu dengan efektif dan efisien waktu. Dalam hal ini sangat dibutuhkan kemampuan memanajemen waktu. Jika perlu, satu hal dilakukan bersama-sama dengan tim agar lebih cepat terselesaikan, "Alone we can do so little; together we can do so much. - Sendiri kita menyelesaikan sedikit pekerjaan; bersama kita kerjakan sangat banyak pekerjaan," kata Hellen Keller.
Kekuatan Karakter
Zhuge Liang menasihati anaknya agar membiasakan diri tidak bersikap tergesa-gesa, sebab segala sesuatu memerlukan proses. Kehati-hatian dalam bersikap dapat membentuk sebuah karakter yang utuh. Dalam pepatah bangsa Tionghoa dikatakan, "Diperlukan waktu hanya sepuluh tahun untuk menanam dan memelihara sebatang pohon, tapi memerlukan waktu paling sedikit 100 tahun untuk membentuk sebuah watak yang utuh."
Kekuatan Waktu
Dalam suratnya Zhuge Liang menginginkan anaknya menghargai waktu. Sebab waktu berlalu sangat cepat, tak jarang ikut mengikis semangat dan cita-cita kita. Oleh sebab itu manajemen waktu dengan baik, jangan pernah menyia-nyiakan waktu dengan melakukan aktifitas yang kurang bermanfaat.
Kekuatan Imajinasi
Zhuge Liang memberikan nasehat supaya kita berpikir jauh ke depan, agar kita tidak tertinggal oleh jaman yang terus berkembang. Imajinasi tentang masa depan dikatakannya lebih kuat dari pengetahuan. Hal ini juga pernah diucapkan oleh Albert Einstein, "Imagination is everything. It is the preview of life's coming attractions. - Imajinasi adalah segalanya. Imajinasi adalah penarik realitas yang akan datang."
Kekuatan Kesederhanaan
Sang penasehat ini mencontohkan kekuatan kesederhanaan dalam setiap surat-suratnya yang singkat dan mudah dimengerti tetapi sarat tuntunan hidup positif. Tidak ada teori atau tuntunan hidup yang muluk-muluk, melainkan kebijaksanaan hidup yang sederhana. Begitupun jika kita ingin menghasilkan prestasi hidup yang luar biasa, tak perlu menggunakan teori yang rumit. Sekalipun tindakan atau langkah-langkah yang kita lakukan sederhana tetapi jika dilakukan dengan konsisten maka kita akan mudah meraih visi dan misi.
"Success is the sum of small efforts, repeated day in and day out. - Sukses merupakan kumpulan dari tindakan-tindakan sederhana, diulang terus setiap hari." Kata Robert Collier, penulis buku terlaris.
Itulah beberapa inti pesan dalam surat-surat Zhuge Liang, yang ditujukan untuk anaknya agar ia mampu berpikir, bersikap dan bertindak lebih baik dari hari ke hari. Kita dapat menyerap pemikirannya untuk menjadi yang terbaik. Jika kita berhasil melakukan yang terbaik artinya kita akan semakin dekat dengan kehidupan yang kita inginkan, kehidupan yang indah.

Kepercayaan Pelanggan Terhadap Tenaga Penjual dan Perusahaan (Kajian Berbasis Literatur)



KEPERCAYAAN PELANGGAN
TERHADAP TENAGA PENJUAL DAN PERUSAHAAN
(Kajian Berbasis Literatur)

Oleh : Robiyanto

1. Pendahuluan
Dewasa ini semakin banyak perusahaan yang memfokuskan diri untuk mengembangkan hubungan yang saling menguntungkan dengan konsumennya maupun dengan organisasi yang lain bahkan dengan pekerjanya. Hal terpenting yang harus diperhatikan guna meraih tujuan jangka panjang tersebut adalah mengembangkan dan menjaga kepercayaan. Penekanan terhadap kepercayaan dapat diterapkan pada berbagai organisasi, termasuk organisasi yang menjual produknya ke pada industri, konsumen akhir dan lembaga-lembaga pemerintah serta lembaga non pemerintah.
Dari perspektif intuitif, kepercayaan antara pembeli, penjual dan pihak-pihak yang melakukan transaksi seperti produsen, dapat menunjang pengembangan hubungan jangka panjang. Keahlian dalam membina  hubungan baik dapat memiliki pengaruh nyata pada kinerja bisnis melalui perhatian konsumen, kesetiaan pekerja dan hasil-hasil yang relevan dengannya. Kepercayaan yang tinggi memungkinkan perusahaan memfokuskan diri pada hubungan, yang dapat secara nyata meningkatkan daya saing dan mengurangi biaya produksi.

2. Kepercayaan (Pelanggan)
Konsep kepercayaan telah dijelaskan secara konseptual dan secara empiris, terutama pada konteks penelitian antara personal dan antar kelompok. Sebagai istilah yang sering kali dipakai dalam bahasa sehari-hari, tidak nampak adanya definisi tunggal dari kepercayaan, yang ada hanyalah definisi yang secara umum dapat diterima. Kategori pertama melihat kepercayaan sebagai ciri-ciri perorangan atau tanggapan yang ditujukan pada sosialisasi dan sebagai fungsi dari lingkungan khusus dari kehidupan seseorang. Rotter (1963) dalam Donney dan Cannon (1997) dalam konseptualisasi awalnya, menggambarkan kepercayaan sebagai harapan umum yang dapat dinyatakan dalam kata-kata, janji, baik lisan maupun tertulis di mana orang lain dapat bersandar. Pada kategori kedua, kepercayaan dipandang sebagai perilaku yang beriko yang dievaluasi atas dasar situasi per situasi oleh individu. Kategori ketiga menggambarkan kepercayaan sebagai pandangan awal dari individu terhadap orang lain atau kelompok, suatu persepsi di mana keberadaan orang lain amatlah membantu, dapat bekerja sama dan jujur. Konseptualisasi ini menekankan hubungan antar kelompok.
Literatur di bidang pemasaran juga menyediakan beberapa definisi dari kepercayaan, mungkin yang paling mewakili dalam mencoba melihat dan mengkonseptualisasikan kepercayaan adalah konsep yang dikemukakan oleh Hosmer (1995). Dengan memandang teori konseptualisasi organisasional dan bidang ilmu lain, Hosmer (1995) mengemukakan definisi sebagai berikut:
Kepercayaan adalah ketergantungan seseorang, kelompok ataupun perusahaan terhadap kewajiban yang secara sukarela menjadi bagian dari orang lain, kelompok atau perusahaan  untuk mengakui dan melindungi hak, kepentingan dan hal-hal lain yang berkaitan dalam usaha bersama maupun pertukaran ekonomi.
Meskipun pendekatan definisional lain dapat saja diterapkan pada transaksi bisnis, penelitian ini menghadirkan perspektif yang diajukan oleh Hosmer (1995). Dwyer dan Lagace (1986) mengembangkan suatu kerangka pikir dari hubungan kepercayaan bisnis. Dalam kerangka pikir ini, setiap pihak cenderung untuk mempercayai berdasarkan pengalaman langsung dengan pasangan bisnisnya dan bersifat situasional. Pengalaman ini  diposisikan untuk mempengaruhi persepsi pembeli (penjual) untuk adil, jujur dan bekerja sama. Persepsi ini sejalan dengan kepribadian seseorang, mempengaruhi pembeli (penjual) untuk cenderung mempercayai penjual (pembeli). Ketika kecenderungan untuk mempercayai antara pembeli dan penjual mulai dapat dipertimbangkan, maka beberapa bentuk hubungan muncul, yaitu tingkat kepercayaan skala tinggi yang saling menguntungkan, tingkat kepercayaan skala rendah yang saling menguntungkan, dan campuran keduanya. Lebih lanjut, pembeli dan penjual akan cenderung untuk terus membangun tingkat kepercayaan ini.
Model lain dalam hubungan kepercayaan di bisnis telah dikembangkan dan diuji oleh Holden (1990). Analisis ini mengindikasikan bahwa variabel tenaga penjual (kepribadian tenaga penjual, taktik menjual, orientasi terhadap konsumen, dan keahlian) dan variabel perusahaan (kualitas produk, pelayanan pelanggan, orientasi pelanggan dan keahlian) memiliki hubungan positif dengan kepercayaan terhadap tenaga penjual dan kepercayaan terhadap perusahaan.
Hasilnya mengindikasikan bahwa baik kepercayaan terhadap penjual maupun kepercayaan terhadap perusahaan memiliki hubungan positif dengan pembelian berdasarkan kesetiaan dan negosiasi yang kooperatif. Fundamental untuk membangun hubungan di pemasaran adalah elemen dari kepercayaan, yang mana menjamin pembeli dan penjual (Morgan dan Hunt, 1994).
Dwyer et al. (1986) telah mengembangkan kerangka pemikiran dalam membangun kepercayaan dalam hubungan bisnis. Kerangka pikir mereka, , menyarankan bahwa hubungan tersebut berevolusi melalui lima tahapan sebagai berikut: (1) kesadaran, (2) penjajakan, (3) pengembangan, (4) komitmen, dan kelima disolusi.
Setap tahap melibatkan berbagai jenis dan tingkat interaksi, pengalaman langsung dan saling ketergantungan. Sebagai contoh, dalam tahap penjajakan, proses daya tarik, komunikasi dan tawar menawar, pengembangan norma dan pengembangan harapan menjadi penentu dalam kepercayaan. Penjajakan berlanjut setelah pembelian awal dari suatu produk dan jasa yang menjanjikan kinerja di masa mendatang.

3. Kesimpulan
Kepercayaan dipandang sebagai salah satu komponen kunci dari suatu hubungan pertukaran. Pembeli yang mempercayai penjual akan lebih mungkin untuk melanjutkan interaksinya. Meskipun karakteristik hubungan pembeli dan penjual secara nyata menjadi salah satu faktor penting dalam pengembangan kepercayaan pembeli, namun terdapat variabel penting lainnya yang perlu diperhatikan seperti faktor produk dan perusahaan, yang dapat mempengaruhi pembentukan kepercayaan. Hal lain yang perlu diperhatikan adalah pada tahap penjajakan.
Tahap penjajakan ini sangat penting karena berada pada fase di mana pembeli mencari informasi, membuat pembelian pertamanya dan memulai proses untuk mengembangkan kepercayaan. Hal ini sesudah produk dibeli, digunakan dan dievaluasi hingga kepercayaan mulai berkembang atau malah berkurang. Pada produk-produk yang diperuntukkan untuk pasar industri kepercayaan akan suatu produk dan kepercayaan terhadap tenaga penjual dan perusahaan sangat penting. Berbeda dengan pasar konsumen, pasar industri sangat komplek dan produk yang ditawarkan oleh suatu perusahaan untuk industri tertentu harus benar-benar dapat diandalkan oleh perusahaan penggunanya.

Referensi

Crosby LA, Evans KR, dan Cowles D. (1990), “Relationship quality in services selling: an interpersonal influence perspective,” Journal of Marketing,54, p. 68 - 81.

Doney PM dan Cannon JP. (1997), “An examination of the nature of trust in buyer seller relationships,” Journal of Marketing, 61, p. 31 - 35.

Dwyer FR dan Lagace RR. (1986), “On the nature and role of buyer seller trust,” In: T Shimp, Sharma S, editors. American Marketing Association Educators' Conference Proceedings. Chicago: American Marketing Association,  p. 40 - 45.

Hawes JM, Mast KE, dan Swan JE. (1989), “Trust earning perceptions of sellers and buyers,” Journal of Personal Selling Sales Management, 9, p. 1 - 8.

Hosmer LRT. (1995), “Trust: the connecting link between organizational theory and philosophical ethics,” Academy Management Review, 20, p. 379 - 403.

Morgan RM dan Hunt SD. (1994), “The commitment trust theory of relationship marketing,” Journal of Marketing, 58, p. 20 - 38.

Pentingnya Rasa Memiliki (Sense of Belonging) Dalam Bekerja



Pentingnya Rasa Memiliki (Sense of Belonging) Dalam Bekerja

Oleh : Robiyanto
           
Rasa memiliki (sense of belonging) merupakan ekspresi jiwa yang penting dalam kehidupan seseorang. Rasa memiliki juga akan memiliki dampak yang nyata terlihat secara signifikan di dalam perilaku seseorang. Seseorang yang memiliki rasa memiliki akan bertindak peduli, terikat, memiliki empati, termotivasi bahkan mampu memberdayakan dirinya sendiri meskipun tidak ada stimulan.
Contoh konkret rasa memiliki di dalam kehidupan adalah ketika seseorang merasa memiliki rumah, maka dia akan senantiasa menjaga dan membersihkan rumah tersebut terlebih rumah tersebut adalah tempat bernaungnya. Ketika seseorang memiliki anak, maka dia akan berupaya memberikan yang terbaik bagi anak-anaknya. Bahkan ketika seseorang memelihara binatang peliharaan seperti burung ataupun kucing, dia akan menjaga agar binatang peliharaannya tidak mati kelaparan dan dapat selalu sehat.
Sayangnya rasa memiliki ini cenderung tidak terlihat di dalam dunia kerja. Cukup banyak dari kita yang memandang pekerjaan sebagai beban dan tempat bekerja hanya sebagai pihak yang memasok gaji untuk melangsungkan kehidupan kita. Ironisnya rasa memiliki ini hampir luntur (bahasa halus dari nyaris tidak ada) di dalam perusahaan. Kita seringkali menyepelekan hal-hal kecil yang jika digabung secara keseluruhan berpotensi merugikan perusahaan tempat kita bekerja dan mencari nafkah ini.
 Acapkali kita melakukan pemborosan yang tidak disengaja yang terjadi karena sikap ketidakpedulian yang merupakan buah dari tidak adanya rasa memiliki. Lupa mematikan air di kamar kecil, lupa mematikan pendingin udara ketika tidak ada orang bahkan lupa menutup valve secara rapat, lupa memeriksa apakah suku cadang yang digunakan untuk sarana produksi masih ada atau tidak dan yang lebih parah adalah lupa melayani pelanggan dengan baik serta tidak jujur dengan menyembunyikan fakta akan berdampak sangat besar bagi perusahaan tempat kita mencari nafkah. Pernahkah kita menghitung potensi pemborosan akibat hal ini. Sebagai ilustrasi pemborosan yang terjadi akibat lupa menutup kran air di kamar kecil adalah sebagai berikut : misalnya jumlah air yang dibuang selama satu jam adalah sekitar 10 meter kubik, maka selama sehari jam kerja jumlah air yang dibuang adalah sebesar 80 meter kubik untuk satu keran selama sehari atau sebesar 2000 meter kubik untuk 25 hari kerja dalam sebulan. Masalahnya adalah satu cabang bisa memiliki beberapa keran yang lupa untuk ditutup. Misalnya suatu cabang pabrik bisa memiliki lebih dari 10 kran air. Maka jumlah air yang terbuang di cabang tersebut adalah sebanyak 20.000 meter kubik sebulan. Jika tingkat kelupaan/tingkat ketidakpedulian adalah sekitar 30% maka potensi air yang terbuang selama sebulan adalah 20.000 meter kubik kali 30% = 6.000 meter kubik. Sehingga pemborosan yang terjadi akibat tingkat kelupaan/ketidakpedulian sebesar 30% ini adalah Rp. 6.000.000 sebulan untuk satu cabang dengan asumsi harga air adalah Rp. 1.000 per meter kubik. Bagaimana jumlah potensi kerugian yang dialami oleh perusahaan yang memiliki banyak cabang jika karyawan pada semua cabang tidak memiliki kepedulian akibat kurangnya rasa memiliki. Ilustrasi di atas hanya untuk air saja yang merupakan hal yang kecil di dalam perusahaan. Belum untuk kerugian akibat pemborosan listrik karena lupa mematikan pendingin udara, komputer, bahkan lampu. 
Kerugian perusahaan merupakan kerugian bagi kita semua dari golongan rendah hingga golongan puncak, karena perusahaan adalah ibarat ladang yang harus kita garap dengan baik dan benar akan dapat menghasilkan sesuai harapan kita. Kemajuan perusahaan akan berdampak baik bagi kita semua selaku karyawan, demikian pula kemunduran perusahaan akan berdampak buruk bagi kita. Oleh sebab itu sudah sepatutnya kita peduli dan mengembangkan rasa memiliki terhadap perusahaan yang menjadi ladang garapan kita. Ladang yang digarap dengan rasa syukur, rasa memiliki dan rasa cinta akan memberikan hasil yang memadai bagi penggarapnya, demikian pula dengan pekerjaan yang dilakukan dengan kerelaan dan rasa cinta. Singkatnya sikap memiliki terhadap perusahaan akan memberikan hasil yang positif bagi kita yang bekerja di dalamnya. 

Senin, 10 Februari 2014

12 Prinsip Bisnis Tao Zhu-gong : Falsafah Bisnis Klasik Cina


12 Prinsip Bisnis Tao Zhu-gong,

Falsafah Bisnis Klasik Cina


Keduabelas prinsip bisnis ini berasal dari masa 2000 tahun lalu. Meskipun demikian, prinsip-prinsip bisnis ini tetap memiliki arti penting yang besar sehubungan dengan cara menjalankan bisnis yang sifatnya universal dan kompleks itu.
Tao Zhu-gong sendiri, adalah seorang ahli strategi militer yang mengundurkan diri dari kedudukan tinggi seorang perdana mentri untuk menjadi seorang pebisnis. Dengan menerapkan apa yang telah dipelajarinya ketika masih aktif dimiliter, ia membangun kekayaannya yang setara dengan kekayaan Bill Gate dijaman modern. Dimasa hidupnya, Tao Zhu-gong menyusun 12 prinsip ini.

Prinsip bisnis ke 1: Kemampuan mengenali orang: mengetahui karakter orang akan menjamin kestabilan keuangan anda. (neng shi ren: zhi ren shan  e, zhang mu fu)

Prinsip bisnis ke 2: Kemampuan menangani orang, memperlakukan orang dengan rasa hormat akan membuat anda diterima dikalangan luas dan membuat bisnis berkembang. (neng jie na: li wen  xiang  dai, jiao guan zhe zhong)

Prinsip bisnis ke 3: Kemampuan berfokus pada bisnis: mengabaikan yang lama untuk mendapatkan yang baru merupakan kutukan dalam bisnis.

Prinsip bisnis ke 4: Kemampuan mengorganisasikan: bila produk ditampilkan dengan baik, ia akan menarik perhatian banyak orang. (neng zheng dun: huo wu zheng qi, duo ren xin mu)

Prinsip bisnis ke 5: Kemampuan bersikap tangkas dan fleksibel: keengganan dan keraguan akan menghasilkan kesia-siaan. (neng min jie: you yi bu jue, zhong gui wu cheng)

Prinsip bisnis ke 6: Kemampuan menagih pembayaran: rajin dan rewel akan memberikan keuntungan bagi perusahaan (neng tao zhang: qin jin bu dai, qu tao zi duo)

Prinsip bisnis ke 7: Kemampuan memperkerjakan dan menempatkan sumber daya manusia: memilih orang yang tepat untuk pembayaran yang tepat akan menjamin bahwa orang tersebut dapat dipercaya dan diandalkan. (neng yong ren: yin cai qi shi, ren shi you lai)

Prinsip bisnis ke 8:  Kemampuan berbicara: kepandaian berbicara bisa mendatangkan keberuntungan dan memberikan pencerahan kepada orang lain. (neng bian lun: zuo cai you dao, chan fa yu meng)

Prinsip bisnis ke 9: Kemampuan unggul dalam pembelian: dalam pembelian, menawar sampai setiap ons-nya tidak akan mengurangi modal anda. (neng ban huo: zhi huo bu ke, shi ben bian jing)

Prinsip bisnis ke 10: Kemampuan mendiagnosa dan menyambar peluang serta melawan ancaman: Praktik bisnis yang bijaksana membutuhkan kemampuan untuk menjual dan menyimpan pada waktu yang tepat. (neng zhi ji: shou zhu zui zhi, ke cheng ming zhe)

Prinsip bisnis ke 11: Kemampuan memulai dan menjadi contoh: persahabatan dan kepercayaan akan muncul secara alami jika disiplin dan standar yang tinggi ditegakkan. (neng chang lu: gong xing yi lu: qin gan zhi sheng)

Prinsip bisnis ke 12: Kemampuan melihat jauh ke depan: kapan harus mencari lebih banyak, mengencangkan dan mengendurkan, tergantung pada situasi. (neng yuan shu: duo gua kuan jin, zhuo zhong er xing)