Tinjauan Literatur Orientasi Pasar
Oleh : Robiyanto
1. Orientasi Pasar
Literatur-literatur
mengenai orientasi pasar sebenarnya bukan literatur yang baru, namun
literatur-literatur ini merupakan landasan yang utama dalam pembentukan
keunggulan bersaing dan orientasi pasar yang tetap dapat diterapkan hingga saat
ini pada perusahaan-perusahaan yang beroperasi di abad ke dua puluh satu ini.
Aaker
(1988) menyatakan bahwa agar perusahaan dapat mencapai kinerja di atas
rata-rata secara konsisten diperlukan adanya suatu keunggulan bersaing yang
berkesinambungan. Keunggulan bersaing ini dapat dicapai apabila perusahaan
dalam melayani para pelanggannya dapat memberikan nilai-nilai yang superior
bagi para pelanggannya. Keinginan untuk menciptakan nilai yang superior bagi
para pelanggannya. Keinginan untuk menciptakan nilai yang superior bagi
pelanggan dan mencapai keunggulan bersaing yang berkesinambungan ini mendorong
perusahaan untuk menciptakan dan memelihara budaya yang dapat menghasilkan
sikap-sikap yang diperlukan.
Orientasi
pasar adalah sebuah budaya organisasi yang paling efektif dan efisien dalam
menciptakan sikap-sikap yang diperlukan untuk menciptakan nilai yang superior
bagi pelanggan (Narver dan Slater, 1990). Dengan berlandaskan pada konsep
keunggulan bersaing, dinyatakan bahwa satu-satunya cara untuk mencapai kinerja
yang superior adalah melalui penciptaan nilai yang superior bagi pelanggan.
Logika
dari konsep ini adalah bahwa seorang pelanggan dalam memutuskan untuk melakukan
pembelian suatu produk, ia harus memiliki pandangan bahwa nilai yang diharapkan
produk tersebut bagi dirinya adalah lebih besar daripada yang dihasilkan oleh
alternatif produk lainnya baik yang ditawarkan oleh perusahaan yang sama maupun
oleh perusahaan yang berbeda.
2. Komponen Orientasi Pasar
Narver
dan Slater (1990) menarik kesimpulan bahwa orientasi pasar terdiri dari tiga
komponen perilaku yaitu orientasi pada pelanggan, orientasi pada pesaing dan
koordinasi lintas fungsi dalam organisasi yang mengarah pada dua kriteria
keputusan yaitu fokus jangka panjang dan profitabilitas. Yang dimaksud dengan
oreintasi pada pelanggan adalah sebuah pemahaman suatu perusahaan yang cukup
tentang target pasar dalam rangka memberikan nilai superior yang
berkesinambungan. Orientasi pada pesaing bermakna bahwa perusahaan memiliki
pengetahuan tentang kelemahan dan kekuatan jangka pendek dan juga kemampuan
jangka panjang dari pesaing yang telah ada maupun dari pesaing potensialnya
(Aaker, 1989). Dan komponen perilaku yang ketiga adalah koordinasi lintas
fungsi yang dapat diartikan sebagai proses koordinasi dalam pendayagunaan
sumber daya—sumber daya yang dimiliki perusahaan untuk menciptakan nilai yang
superior bagi pelanggannya.
Ketiga
komponen tersebut memiliki tingkat kepentingan yang sama sehingga dapat
digambarkan sebagai berikut :
Kohli
dan Jaworski (1990) mendefinisikan orientasi pasar sebagai penciptaan intelijen
pasar yang berkaitan dengan kebutuhan pelanggan saat ini dan di masa yang akan
datang, penyebaran intelijen tersebut antar departemen dan hal-hal yang
dilakukan untuk mengantisipasinya.
Mereka
berpendapat bahwa orientasi pasar adalah sebuah filosofi manajemen pemasaran
yang dibangun dengan tiga dimensi yaitu :
1. intelijen
pasar yang berkaitan dengan kebutuhan pelanggan saat ini dan di masa yang akan
datang
2. penyebaran
intelijen tersebut antar departemen
3. hal-hal
yang dilakukan untuk mengantisipasinya
Mereka
membangun teori tersebut dengan menyatakan bahwa titik awal dari orientasi
pasar adalah intelijen pasar. Intelijen pasar adalah konsep yang luas daripada
hanya sekedar menangkap pernyataan verbal dari konsumen tentang kebutuhan dan
preferensinya, tetapi juga menyangkut analisis terhadap faktor-faktor lainnya
yang mempengaruhi kebutuhan dan preferensi konsumen. Intelijen pasar diperoleh
atau diciptakan oleh suatu perusahaan melalui kegiatan-kegiatan seperti,
pertemuan dan diskusi dengan konsumen dan mitra dagang, analisis laporan
penjualan, analisis data base pelanggan dan hasil-hasil penelitian formal
seperti survey perilaku konsumen dan uji tanggapan pasar. Elemen yang kedua
dari orientasi pasar adalah penyebaran intelijen pasar, efektifitas dari proses
penyebaran hasil intelijen pasar adalah sangat krusial karena menentukan
tindakan-tindakan yang akan diambil oleh tiap-tiap bagian dalam perusahaan dan
perlu pula untuk dicatat bahwa penyebaran dari hasil intelijen pasar kepada
tiap bagian dalam organisasi tidak harus selalu dilakukan oleh bagian pemasaran.
Dan elemen terakhir dari orientasi pasar adalah daya tanggap/antisipasi. Daya
tanggap yang dimaksud adalah berupa tindakan-tindakan yang diambil dalam
merespon intelijen pasar yang telah dibuat dan telah disebarkan ke seluruh
fungsi-fungsi perusahaan.
3. Perusahaan Yang Berorientasi
Pasar
Pelham
(1997) menyatakan bahwa perusahaan yang berorientasi pasar adalah perusahaan
yang mengembangkan pemahaman yang lebih baik di keseluruhan organisasi tentang
kebutuhan pelanggannya dalam hal menciptakan nilai pelanggan, mengembangkan
pemahaman yang lebih baik tentang kekuatan dan kelemahan pesaing, menggunakan
pemahaman-pemahaman itu untuk mengembangkan dan mengimplementasikan
strategi-strategi demi menciptakan nilai pelanggan dan kepuasan pelanggan yang
lebih baik.
Referensi
Aaker,
David A. (1988), “Managing Assets and Skills: The Key to Sustainable
Competitive Advantage”, California
Management Review, Vol. 31 No. 2, p. 91 – 106.
Kohli,
Ajay K. dan Jaworski, Bernard J. (1990), “Market Orientation: The Construct,
Rseacrh Proposition, and Management Implication”, Journal of Marketing, Vol. 54, p. 1 -18.
Narver,
John C. Dan Slater, Stanley F. (1990), “The Effect of a Market Orientation on
Business Profitability”, Journal of
Marketing, October, p. 20 – 35.
Pelham,
Alfred M. (1997), “Mediating Influence on The Relationship Between Market
Orientation and profitability in Small Industrial Firms”, Journal of Marketing Theory and Practice, Summer 1997, p. 55 – 76.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar